cover artikel Social Climber Gak Bagus Loh, Yuk Bahas Kenapa
Social Climber Gak Bagus? Yuk Bahas Kenapa

Pernah nggak sih kamu ketemu orang yang suka banget tampil wah atau bisa disebut flexing di media sosial, padahal aslinya biasa aja? Nah, bisa jadi mereka termasuk social climber—orang yang rela melakukan apa saja demi naik kasta sosial, bahkan rela kalau harus pura-pura dan memaksakan diri.

Fenomena social climber makin marak belakangan ini, apalagi di zaman di mana penampilan dan citra di media sosial sering dianggap segalanya. 

Lantas apa itu social climber? Dikutip dari Journal berjudul Dampak Negatif Social Climber di Media Sosial Pada Remaja, Social climber adalah hasrat seseorang untuk mendapatkan pengakuan status yang lebih tinggi dibandingkan dengan status yang sebenarnya ia miliki (Shaudi & Latib, 2021).

Mengenal “Social Climber”

Era modern saat ini, munculnya berbagai platform media sosial memberikan keleluasaan kepada setiap orang untuk mengekspresikan diri, menciptakan ruang untuk menggambarkan identitas citra diri dengan sangat mudah dan tentu saja citra yang dibangun ini berbeda dengan kehidupan pribadi yang sebenarnya.

Banyak orang menjadi konsumtif, berlomba-lomba membeli barang mewah, pamer kebahagiaan, dan gaya hidup mewah lainnya.

Sebab, dengan gaya hidup seperti itu, ia akan mendapatkan pengakuan sosial di lingkungan sekitarnya. Hal ini membuat pelaku “social climber” atau “panjat sosial” menjadi semakin termotivasi untuk menunjukkan gengsinya agar mendapat pengakuan di lingkaran sosial yang lebih tinggi.

Illustrasi Social Climber, Yayasan Indah Berbagi, Artikel Inspiratif.

(Gambar ilustrasi oleh Siarhei Nester)

Era modern saat ini, munculnya berbagai platform media sosial memberikan keleluasaan kepada setiap orang untuk mengekspresikan diri, menciptakan ruang untuk menggambarkan identitas citra diri dengan sangat mudah dan tentu saja citra yang dibangun ini berbeda dengan kehidupan pribadi yang sebenarnya.

Banyak orang menjadi konsumtif, berlomba-lomba membeli barang mewah, pamer kebahagiaan, dan gaya hidup mewah lainnya. Sebab, dengan gaya hidup seperti itu, ia akan mendapatkan pengakuan sosial di lingkungan sekitarnya.

Hal ini membuat pelaku “social climber” atau “panjat sosial” menjadi semakin termotivasi untuk menunjukkan gengsinya agar mendapat pengakuan di lingkaran sosial yang lebih tinggi.

Dampak Negatif Dari Social Climber

Dalam Jurnal penelitian berjudul Studi Social Climber Gen-Z dan Perilaku Ekonominya dikatakan bahwa pelaku social climber mayoritas adalah orang-orang yang dalam kehidupan nyata termasuk kelas ekonomi menengah ke bawah tetapi menginginkan  gaya  hidup  mewah  agar  dianggap  memiliki  status  sosial  yang  tinggi.

Orang-orang rela untuk membeli barang-barang mewah dengan cara yang tidak jujur, seperti meminjam uang pada teman dan berbohong pada orang tua. Fenomena ini memunculkan banyak hal-hal negatif dalam pribadi pelaku itu sendiri.

Berikut adalah dampak negatif dari social climber:

Sifat Manipulasi dan Penipuan

Pelaku social climber menjadi tidak jujur, manipulasi, dan penipuan kepada orang lain terhadap kondisinya yang sebenarnya karena terkadang yang ditampilkan di media sosial tidak sesuai dengan kondisi ekonominya yang sebenarnya.

Gangguan Kesehatan Mental

Pelaku social climber dapat mengalami kecemasan, depresi, dan stress karena terobsesi dengan status sosial dan bahkan cemburu atau iri dengan orang lain yang dilihatnya.

Berperilaku Konsumtif

Pelaku social climber akan bersifat boros karena selalu membeli berbagai jenis barang mewah hanya untuk pamer atau flexing agar terlihat menarik dan mencari validasi dari orang lain.

Kerusakan Hubungan Sosial

Ketika pelaku social climber terlalu fokus untuk meningkatkan status sosial mereka, mungkin saja mereka akan ditinggalkan oleh teman dan orang disekitarnya karena sifat manipulasi dan merasa dimanfaatkan oleh pelaku social climber.

Terjerat Pinjaman Online

Demi terlihat kaya dan eksklusif, pelaku social climber mungkin akan melakukan berbagai macam cara untuk membeli barang-barang branded yang sebenarnya tidak mampu mereka beli, sehingga dengan mudah mereka meminjam pinjaman online.

Pada akhirnya, menjadi social climber bukanlah solusi untuk mendapatkan pengakuan atau kebahagiaan sejati. Justru, gaya yag hidup penuh pencitraan ini sering membawa tekanan mental, relasi yang tidak sehat, hingga kehilangan jati diri. Di tengah masyarakat yang semakin kompetitif dan visual, penting bagi kita untuk membangun nilai diri berdasarkan kejujuran, integritas, dan kualitas personal yang otentik.

Daripada mengejar status sosial semata, lebih baik fokus pada pengembangan diri yang nyata dan membangun hubungan sosial yang tulus. Karena pada akhirnya, yang paling berharga bukanlah bagaimana orang lain melihat kita—melainkan bagaimana kita menghargai diri sendiri.

Referensi:

  1. “Dampak Negatif Social Climber di Media Sosial Pada Remaja” Journal dari DOI: https://doi.org/10.33394/realita.v8i2.8973
  2. “Studi Social Climber Gen-Z dan Perilaku Ekonominya” Journal dari DOI: https://doi.org/10.26858/je3s.v4i1.396
Tentang Penulis
Lutfiah Az Zahra
-
Sharing is Awesome